20 Mei 2016

Kebangkitan nasional ke-108

Hari Kebangkitan Nasional diperingati setiap tanggal 20 Mei. Pada tahun 2016 ini, kita selaku bangsa Indonesia akan memperingati Hari Kebangkitan Nasional tersebut yang ke 108. Dalam sejarahnya, Kebangkitan nasional dimulai dengan berdirinya Boedi Oetomo pada tanggal 20 Mei 1908 dimana ditandai dengan bangkitnya rasa dan semangat persatuan, kesatuan, dan nasionalisme serta kesadaran untuk memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia, yang tidak pernah muncul selama penjajahan berkuasa dan bumi pertiwi ini dikuasai oleh Belanda dan Jepang.

Pada awal berdirinya, organisasi Boedi Oetomo yang digagaskan pertama kali oleh Dr Wahidin Sudiro Husodo ini hanya bergerak dalam bidang pendidikan dan sosial budaya. Organisasi ini mendirikan sejumlah sekolah yang bernama Boedi Oetomo dengan tujuan berusaha memelihara serta memajukan kebudayaan Jawa. Anggota Boedi Oetomo terdiri dari kalangan atas suku Jawa dan Madura. Namun sejak tahun 1915 organisasi Boedi Oetomo mulai bergerak di bidang politik. Gerakan nasionalisme Boedi Oetomo yang berciri politik disebabkan oleh berlangsungnya Perang Dunia I. Peristiwa Perang Dunia I mendorong pemerintah kolonial Hindia-Belanda memberlakukan milisi bumiputera, yaitu wajib militer bagi warga pribumi.

Dalam perjuangannya di bidang politik, Boedi Oetomo memberi syarat untuk pemberlakuan wajib militer tersebut. Syarat tersebut adalah harus dibentuk terlebih dulu sebuah lembaga perwakilan rakyat (Volksraad). Usul Boedi Oetomo disetujui oleh Gubernur Jenderal Van Limburg Stirum sehingga terbentuk Volksraad pada tanggal 18 Mei 1918. Di dalam lembaga Volksraad terdapat perwakilan organisasi Boedi Oetomo, yaitu Suratmo Suryokusomo.

Menyadari arti penting organisasi bagi rakyat, maka pada tahun 1920 Boedi Oetomo mulai menerima anggota dari masyarakat biasa. Dengan bergabungnya rakyat biasa ini, menjadikan Boedi Oetomo menjadi sebuah organisasi pergerakan rakyat dengan ditandai oleh pemogokan kaum buruh untuk menuntut kehidupan yang lebih baik.

Sejak tahun 1930, Boedi Oetomo membuka keanggotaannya untuk seluruh rakyat Indonesia. Dengan seiringnya waktu, dalam bidang politik Boedi Oetomo mempunyai cita-cita untuk membuat Indonesia merdeka. Dengan hal ini Boedi Oetomo berubah menjadi sebuah organisasi dengan tujuan nasionalisme.

Untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia tersebut, pada tahun 1935, Boedi Oetomo bergabung dengan Partai Bangsa Indonesia (PBI) yang didirikan oleh Dr. Sutomo. Kemudian dari dua organisasi ini melebur menjadi satu dalam partai Indonesia Raya (Parindra) yang diketuai oleh Dr. Sutomo.

Namun menurut beberapa sumber, kebangkitan nasional sebenarnya berawal dari berdirinya Sarekat Dagang Islam pada tahun 1905 di Pasar Laweyan, Solo. Sarekat ini awalnya berdiri untuk menandingi dominasi pedagang Cina pada waktu itu. Kemudian berkembang menjadi organisasi pergerakan sehingga pada tahun 1906 berubah nama menjadi Sarekat Islam.

Maka dari itu, Mari kita maknai Hari Kebangkitan Nasional ini dengan mewujudkan Indonesia yang berkerja nyata, mandiri, dan berkarakter.

#HARKITNAS108 #HIMAJANUNAS #UNAS1949 #AdministrasiNegara #HIMAJANONTOP

09 November 2015

Hari pahlawan

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya, seperti kata Bung Karno “Negara Yang Besar Adalah Yang tidak melupakan Jas Merah” Artinya tidak akan melupakan sejarah suatu bangsa tersebut.
Para pahlawan rela mengorbankan hidupnya demi menjaga dan mempertahankan negara Indonesia.
Tanpa jasa mereka, kita tidak bisa menjadi bangsa dan negara Indonesia seperti sekarang.
Kita harus mampu mengenang dan menghargai pejuangan, pengorbanan para pahlawan dan pemimpin bangsa yang menjadi simbol negara Indonesia.
Itulah sebabnya, sejarah bangsa ini telah mendokumentasikan bahwa kemerdekaan Indonesia bukanlah “hadiah” dari bangsa lain, melainkan hasil dari perjuangan dan pengorbanan jiwa dan raga para syuhadapejuang dan “founding fathers” (Bapak-Bapak Bangsa) se-Nusantara dengan aneka keragaman latar belakangnya.
Mereka berjuang dan berkorban, sejak periode “merebut kemerdekaan” hingga periode kritis ketika harus “mempertahankan kemerdekaan” yang telah diproklamasikan.
Namun, sangat disayangkan mutu peringatan itu terasa menurun dari tahun ke tahun.
Hari Pahlawan yang selalu kita peringati hendaknya jangan hanya mengedepankan unsur seremoni belaka, tanpa menghayati nilai-nilai perjuangan yang dipesankan oleh para pahlawan ini.
Akan sangat ironi bila memperingati hari pahlawan sebatas seremoni saja tanpa mengambil teladan dari nilai-nilai perjuangan untuk diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebenarnya kita semua mampu untuk memberi makna baru atas tonggak bersejarah kepahlawanan, dengan mengisi kemerdekaan sesuai perkembangan zaman.
Menghadapi situasi seperti sekarang kita berharap muncul banyak pahlawan dalam segala bidang kehidupan.
Karakteristik seorang pahlawan adalah jujur, pemberani, dan rela melakukan apapun demi kebaikan dan kesejahteraan masyarakat.
Setiap orang harus berjuang untuk menjadi pahlawan.
Bukan hanya tanggal 10 November saja yang dianggap sebagai Hari Pahlawan.
Kenapa tidak kita jadikan setiap hari adalah Hari Pahlawan?
Karena setiap hari kita harus berjuang, paling tidak menjadi pahlawan untuk diri kita sendiri dan keluarga.
Artinya, kita menjadi warga yang baik dan meningkatkan prestasi dalam kehidupan masing-masing.
Setidaknya kita harus mampu bertanya pada diri sendiri; apakah rela mengorbankan diri untuk mengembangkan diri dalam bidang kita masing-masing? Dan mencetak prestasi dengan cara yang adil, pantas dan wajar. 
📢 Himajan mengucapkan 
🎊 Selamat Hari Pahlawan 10 November 2015🇮🇩
#HIMAJANUNAS #HariPahlawan #Unas1949

27 Oktober 2015

Sumpah pemuda

       Sumpah Pemuda merupakan salah satu tonggak penting dalam perjalanan bangsa Indonesia. Ikrar dan janji yang diucapkan kaum muda dan mudi Indonesia dalam Kongres Pemuda Kedua tersebut menjadi salah satu landasan awal untuk memperjuangkan Indonesia sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat. Inilah kalimat teks Sumpah Pemuda asli 28 Oktober 1928. Kongres Pemuda Kedua dilangsungkan selama dua hari, yaitu tanggal 27 dan 28 Oktober 1928 di Batavia atau Jakarta. Di hari kedua, diucapkanlah janji oleh para pemuda dan pemudi peserta kongres untuk menyatakan bahwa ”tanah air”, ”bangsa”, dan ”bahasa” mereka adalah satu, yaitu tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia.
             Para peserta Kongres Pemuda Kedua ini adalah para perwakilan dari organisasi-organisasi pemuda yang tersebar di seluruh Indonesia, seperti Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI), Jong Java, Jong Sumateranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Islamieten Bond (JIB), Pemoeda Indonesia, Jong Celebes, Jong Ambon, Pemoeda Kaoem Betawi, Indonesische Studieclub, dan lain-lain. Adapun sejumlah tokoh pergerakan pemuda yang turut terlibat saat itu antara lain: Soegondo Djojopoespito, Mohammad Yamin, Amir Sjarifuddin, R. Katja Soengkana, Johanes Leimena, Rochjani Soe’oed, Ramelan, Sarbini, Arnold Manonutu, Bahder Djohan, Siti Sundari, Djuanda, Soejono Djoenoed Poeponegoro, Kasman Singodimedjo, Mohammad Roem, Wilopo, WR Soepratman, dan masih banyak lagi.
       Sesuai namanya, Sumpah Pemuda dirumuskan oleh para pemuda. Mereka kemudian menjadikannya sebagai dasar untuk membangkitkan rasa nasionalisme. Para pemuda tidak lagi berjuang sendiri, melainkan bersamasama. Perlu kita ketahui, Sumpah Pemuda tidak lahir begitu saja. Banyak hal yang melandasi para pemuda bertekad untuk bersatu. Mereka berpikir tidak akan bisa membuat Indonesia merdeka jika berjuang di kelompok sendiri. Kegagalan dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia membuat mereka sadar bahwa rasa nasionalisme harus dipadukan. Karena itu, diadakanlah Kongres Pemuda I dan II. Mereka menjadi satu, menjadi “Pemuda Indonesia”.
Bertolak Belakang
 Semangat persatuan para pemuda dulu harus diikuti pemuda masa kini. Yaitu, mengisi kemerdekaan dengan hal positif yang berguna bagi nusa dan bangsa.

HlMAJAN MENGUCAPKAN SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA.
28 Oktober 1928 - 28 Oktober 2015
Jadikan Indonesia bangga padamu muda-mudi Indonesia! #hmjunas #unas1949 #sumpahpemuda

13 Oktober 2015

tahun baru islam 1437H

Mengenal Sejarah Singkat Tahun Baru Islam

Siapa yang mula-mula menetapkan Tarikh Islam?
Menurut riwayat para ulama ahli tarikh yang masyhur, tarikh Islam mula-mula ditetapkan oleh Umar bin Khattab r.a. ketika ia menjadi khalifah pada tahun 17 Hijrah. Menurut kisahnya, hal ini terjadi disebabkan pada suatu hari Umar menerima sepucuk surat dari sahabatnya, Abu Musa Al-Asy’ari r.a. tanpa dibubuhi tanggal dan hari pengirimannya. Hal itu menyulitkan bagi Umar untuk menyeleksi surat yang mana terlebih dahulu harus diurusnya, sebab ia tidak menandai antara surat yang lama dan yang baru. Oleh sebab itu, Umar mengadakan musyawarah dengan orang yang terpandang dikala itu untuk membicarakan serta menyusun masalah tarikh Islam.
Dalam musyawarah tersebut ada beberapa pilihan tahun bersejarah sebagai patokan untuk memulai tarikh Islam tersebut yaitu: tahun kelahiran Nabi Muhammad, tarikh kebangkitannya menjadi Rasul, tahun wafatnya, atau ketika Nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah. Diantara pilihan tersebut maka akhirnya ditetapkanlah bahwa dimulai dari hari berpindahnya (hijrahnya) Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah menjadi awal tarikh Islam yaitu awal tahun Hijriyah, sebagaimana dahulu telah ditetapkan bahwa, hari Nabi Isa a.s. dilahirkan ditetapkan sebagai awal tahun Miladiyah atau Masihiyah.
Kemudian setelah permulaan tahun itu diputuskan, maka dimusyawarahkan pula bulan apa yang baik dipergunakan untuk tiap-tiap awal tahun tersebut.Akhirnya setelah dipilih maka ditetapkanlah bahwa bulan Muharramlah yang dipergunakan untuk permulaan tahun Islam.
Kenapa Hijrahnya Nabi Muhammad SAW ditetapkan sebagai permulaan Tarikh Islam (Tahun Hijriah)?
Hijrahnya Nabi sangat besar artinya dalam sejarah perkembangan da’wah Islamiyah. Karena setelah Nabi Muhammad hijrah ke Madinah, da’wah Islam mulai mencapai kejayaannya yang gemilang. Kalau sebelum hijrah ummat Islam adalah golongan yang ditindas dan disiksa oleh kaum Musyrikin, maka setelah Nabi hijrah kaum muslimin telah mempunyai kedudukan yang kuat dan telah terbentuk sebuah negara Islam yang memiliki peraturan, pimpinan serta undang-undang tersendiri. Oleh karena itu diharapkan peristiwa hijrah akan dikenang oleh umat Islam pada tiap-tiap tahun bagaimana perjuangan yang gigih dan pengorbanan tenaga dan jiwa raga Nabi serta para sahabatnya dalam meneggakkan Islam. Disamping itu hijrah Nabi juga menunjukkan bahwa Allah memisahkan dan membedakan antara yang haq dan yang bathil, membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Apa sebab Bulan Muharram dijadikan bulan pertama bagi tahun Hijriah?
Pada dasarnya sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi keluar dari kota Mekkah pada hari kamis akhir bulan Shafar, dan keluar dari tempat persembunyiannya di Gua Tsur pada tanggal 2 Rabi’ul Awwal (20 September 622 M) untuk menuju ke Madinah. Dan menurut al-Mas’udi, Rasulullah memasuki Madinah tepat pada malam hari 12 Rabi’ul Awwal. Sementara Umar dan para sahabat-sahabatnya menetapkan awal bulan hijriyah adalah bulan Muharram bukannya bulan Rabi’ul Awwal adalah semata-mata memandang bahwa bulan Muharram adalah bulan yang mula-mula Nabi berniat untuk berhijrah. Selain itu di bulan Muharram ini pulalah para jama’ah haji baru selesai mengerjakan ibadah haji dan pulang kenegerinya masing-masing. Dengan adanya keputusan yang demikian itu, seolah-olah hijrah Nabi jatuh pada bulan Muharram dan dipandang patut sebagai permulaan tahun didalam Islam.
Adapun nama-nama bulan pada tahun hijrah tersebut adalah : Muharram, Shafar, Rabi’ul Awwal, Rabi’ul Akhir, Jumadil Awwal, Jumadil Akhir, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah.
Kami keluarga besar  Himajan mengucapkan selamat malam tahun baru Islam 1437H. Semoga di tahun baru Islam ke 1437H ini kita dapat lebih mantap lagi untuk selalu beriman dan bertaqwa kepada Allah Swt dan semoga kita bisa hijrah dari sifat syirik menuju tauhid, dari munafik menuju sidiq, dan dari cinta dunia menuju cinta akhirat. Aamiin:)
#hmjunas #unas1949

27 Mei 2014

SEMINAR UMUM HIMAJAN

  

               Pada tanggal 21 Mei 2014, HIMAJAN mengadakan seminar yang bertemakan “Upaya Penyelenggaraan PILPRES 2014 secara Efektif dan Efisien” di ruang seminar UNAS blok I lantai 3 pada pukul 11.00 WIB dan selesai pada pukul 13.20 WIB. narasumber pada seminar tersebut yakni : 
1.Bapak Muhammad Ikbal selaku ketua KPU Administrasi Jakarta Selatan 
2.Bapak Muhammad Jufri, S.Sos, M.Si selaku anggota BANWASLU 
3.Bapak Fadjroel Rahman selaku Pengamat Politik

           Dengan moderator yaitu Bapak Drs. Suranto, M.Si selaku Dosen Universitas Nasional. Seminar ini dihadiri oleh mahasiswa – mahasiswa dari Universitas Nasional, Universitas Islam Syarif Hidayattulah dan Universitas Muhammadiyah. Pada sesi pertama yaitu sesi materi Bapak Muhammad Ikbal memulai dengan materi dari KPU, beliau menjelaskan bahwa PEMILU 2014 kali ini berbeda dengan PEMILU pada 2009 lalu. Perbedaannya yakni terletak pada sistemnya, pada PEMILU 2009 tidak mengenal adanya DPT dan DPT Tambahan namun, pada PEMILU tahun ini, terdapat DPT dan DPT Tambahan dimana jika terdapat warga yang tidak terdaftar di dalam DPT tetap dapat melaksanakan Pemilihan dengan membawa KTP maupun KK ke TPS sesuai alamat pada KTP atau Kknya tersebut.

       PEMILU 2014 ini memberikan kemudahan kepada masyarakat dalam melakukan PEMILU guna meminimalisir wabah GOLPUT yang kini menghantui. Seperti halnya jika seorang warga Bogor tidak dapat melakukan Pemilihan di TPS daerahnya dikarenakan pekerjaan ataupun alasan lainnya, ia tetap dapat melakukan pemilihan dengan meminta formulir A5 di TPS asalnya kemudian diserahkan kepada TPS tujuan. Selain itu, beliau juga menjelaskan tentang jadwal kampanye yakni: 
1. Kampanye dimulai sejak 3 (tiga) hari setelah pasangan yang ditetapkan oleh KPU dan berakhir 3 (tiga)  hari sebelum hari dan tanggal pemungutan suara. 
2. Masa tenang adalah 3 (tiga) hari. 
3.Pemungutan dan perhitungan suara pada tanggal 9 Juli 
4.Pemilih yang berhak memberikan suara :
  • Pemilih yang terdaftar dalam DPT (model A3 PPWP)
  • Pemilih yang terdaftar dalam DPT dan DPTB (model A PPWP)
  • Pemilih yang tidak terdapat dalam DPT dan DPTB namun membawa KTP atau KK ke TPS sesuai alamat yang tertera di KTP.

               Metode kampanye pun ada bermacam – macam diantaranya yakni; pertemuan terbatas, pertemuan tatap muka, media massa dan lain – lain. PEMILU bukan berarti bersih tanpa kendala, banyak sekali kendala yang dihadapi oleh KPU dalam mewujudkan PEMILU yang LUBER JURDIL sesuai dengan prinsipnya. Salah satunya ialah banyak warga yang memaksa untuk memilih di TPS lain tanpa membawa formulir A5 tentu saja itu melanggar peraturan yang berlaku.

          Materi berikutnya dibawakan oleh Bapak Muhammad Jufri, S.Sos, M.Si, beliau menjelaskan tentang kewajiban dan tugas BANWASLU salah satunya yakni bagaimana menciptakan kondisi PEMILU yang tidak terdapat tindak pelanggaran di dalamnya. Fokus BANWASLU sendiri ialah :
1.       Kebenaran dan ketetapan proses pelaksanaa pada setiap tahap penyelenggaraan PEMILU
2.       Keterbukaan / transparansi proses

          BANWASLU juga menerima laporan pelanggaran terkait PEMILU dari masyarakat karena tanpa bantuan masyarakat tentunya pengawasan ini tidak akan berjalan dengan baik. Laporannya bisa melalui lisan atau mendatangi langsung kantor BANWASLU, bisa juga melalui telpon atau juga dengan cara mengisi formulir yang telah disediakan oleh petugas. 

               Lalu materi ketiga diberikan oleh Bapak Fadjroel Rahman, beliau membawa materi dari Soegeng Sarjadi School Government dimana isinya mengenai hasil survey tentang calon – calon presiden maupun wakil presidennya. Disana terdapat survey yang menyatakan bahwa Jokowi yang berpasangan dengan Prabowo sangatlah digemari, hasil ini mempunyai nilai tertinggi dibandingkan dengan Jokowi dengan H. Rhoma Irama maupun Ahok. Namun beliau juga memaparkan hasil survey Jokowi yang dipasangkan dengan Jusuf Kalla mempunyai hasil yang tinggi pula. Lalu beliau juga tak lupa memaparkan tentang hasil survey pasangan Prabowo yang diinginkan oleh masyarakat, namun dalam survey ini, Prabowo dan Hatta Rajasa mempunyai presentase yang tidak terlalu tinggi. Dalam presentasi yang ia paparkan, Pak Fadjroel Rahman juga memperlihatkan hasil Pemimpin yang diinginkan oleh masyarakat Indonesia diantaranya yakni :
1.       Pemimpin yang bebas KKN
2.       Pemimpin yang melayani rakyat
3.       Pemimpin yang mempunyai pengalaman di dalam pemerintahan

            Setelah materi yang dibawakan oleh ketiga narasumber tersebut selesai, selanjutnya adalah sesi tanya jawab dimana Pak Suranto selaku moderator memilih 4 orang mahasiswa yang beruntung untuk mengajukan pertanyaannya kepada 3 narasumber di seminar ini, mereka ialah :
  1.    Saudara Adi Supriadi, Mahasiswa jurusan Hubungan Internasional Universitas Nasional yang menanyakan mengenai upaya pembaruan apa saja yang akan dilakukan oleh KPU untuk menyelenggarakan pemilu yang efektif dan efisien ? lalu usaha BANWASLU sendiri terkait dalam hal memperketat pengawasan tersebut ? dan terakhir dalam debat yang akan dilakukan nanti oleh para CAPRES dan CAWAPRES saya berharap akan dimasukan bahasan tentang konsolasi isu global dimana CAPRES dan CAWAPRES ini lebih condong kemana, Amerika kah atau China atau negara lainnya ?
  2.     Bapak Kamaruddin Salim, S.Sos selaku Wakil kepala biro mawa yang menanyakan mengenai pemilih untuk siapa dan pemilu vs cinta tanah air ?
  3.     Saudara Ilham, Mahasiswa jurusan Hukum Universitas Muhammadiyah yang menanyakan sejauh mana BANWASLU dapat memastikan tidak adanya lagi pemilu yang melanggar nilai norma – noma ? praktik partai politik melakukan oligarki personal individual dan dimana ambang batas personalitas ?
  4.    Saudara Hilman, Mahasiswa Universitas Islam Syarief Hiddayatullah Jakarta yang menanyakan tantangan apa saja yang dihadapi oleh KPU dan BANWASLU yang mengganggu kelancaran PEMILU PILPRES, kasus – kasus pelanggaran yang belum terselesaikan dan upaya – upaya BANWASLU menyelesaikannya ?

        Tiga narasumber lalu menjawab secara bergantian mulai dari Bapak Muhammad Ikbal yang menjelaskan petugas KPPS hanya menerima gaji sebesar Rp. 400.000,- dan petugas kelurahan yang melakukan rekapitulasi selama 6 hari hanya menerima gaji sebesar Rp. 500.000,- itu semua tidak sesuai dengan pekerjaan yang mereka lakukan lalu dalam proses pemuktahirannya terhambat pada masalah anggaran yang belum turun. Para penyelenggara sudah melakukan semaksimal mungkin karena Pemilu ini dibiayai oleh APBN, walaupun para petugas KPPS yang hanya menerima gaji yang tidak sesuai dengan pekerjaannya namun jika dikalikan dengan jumlah TPS di seluruh Indonesia sungguh bukanlah jumlah yang sedikit.  

            Beliau juga menjelaskan bahwa Pemilu tahun 2014 ini merupakan pemilu terbaik dari pemilu – pemilu sebelumnya, tingkat partisipasi masyarakatpun meningkat cukup tinggi dari pemilu sebelumnya. KPU memastikan di gerbang paling depan menjunjung tinggi profesionalitas dan integritas namun tetap saja KPU bukanlah kumpulan malaikat yang tidak bisa berbuat salah juga.

           Lalu Bapak Fadjroel Rahman yang menjelaskan perdebatan dalam debat CAPRES dan CAWAPRES tersebut pasti soal ekonomi, hukum dan politik. CAPRES harus menyampaikan statement dengan waktu yang singkat dan untuk masyarakat mendapatkan informasi selengkap mungkin sungguh sangatlah sulit oleh sebab itu Bapak Fadjroel Rahman merencanakan untuk menambah waktu menyampaikan statement tersebut yang dulunya hanya sekitar 22 menit, kini menjadi 1 setengah jam untuk 1 CAPRES. Beliau juga menyampaikan bahwa GOLPUT merupakan cara menegur para Partai politik untuk memilih calon – calon yang memenuhi kualitas. Dalam menilai CAPRES dan CAWAPRES sebaiknya tidak hanya melihat dari visi dan misinya saja melainkan dengan mencari tahu rekam jejak CAPRES dan CAWAPRES tersebut dan jangan percaya pada satu narasumber saja.

           Dan yang terakhir ialah Bapak Muhammad Jufri, S.Sos, M.Si yang menjelaskan bahwa BANWASLU tetap melakukan pengawasan sesuai peraturan, BANWASLU hanya mempunyai waktu yang terbatas dalam menangani kasus dan mengumpulkan bukti – bukti pelanggaran tersebut. Oleh sebab itu pentingnya kerjasama dari masyarakat guna mengawasi jalannya PEMILU di Indonesia agar berjalan dengan baik.

           Jadi, kita selaku Warga Negara Indonesia harus lebih pintar dalam memilih calon yang akan memimpin negeri ini, nilailah calon tersebut dari seluk beluk yang terdalam dan jangan termakan janji – janji manis politik selain itu kita juga mempunyai kewajiban untuk mengawasi jalannya pemerintahan sebelum mengawasi pemerintahan yang cangkupannya sangat luas, marilah kita mulai mengawasi jalannya Pemilu karena dari sinilah pemimpin – pemimpin negeri dilahirkan. Oleh sebab itu, tinggalkan tradisi GOLPUT, semangatkan PEMILU di Indonesia !!!